Sabtu, 25 Desember 2010

cerpen q

Sam
“Dokter, suster, cepat selamatkan ibu saya!” anak laki-laki itu berteriak sambil menggendong ibunya yang mengidap penyakit jantung itu. Ia terlihat begitu cemas, takut, dan kacau. Para suster pun langsung membawa ibunya ke ruang UGD. Dengan deraian air mata, tak henti-hentinya ia berdoa untuk keselamatan ibunya.
Anak laki-laki itu tak lain adalah Sam, anak seorang pengusaha ternama di kotanya, Surabaya. Sam memiliki seorang kakak bernama Ken, yang mempunyai sifat yang sangat berkebalikan dengan Sam. Ken yang gemar berjudi, main wanita, hanya bias menghabiskan uang orang tua mereka. Ken juga tidak segan-segan memaksa ibunya untuk memberikan apapun yang ia kehendaki. Hal inilah yang menyebabkan penyakit ibu mereka kambuh siang hari itu.
“Sam, bagaimana keadaan ibumu?” tanya ayahnya yang baru saja sampai itu.
“Belum tahu yah, ibu masih ditangani dokter.”
“Kenapa penyakit ibumu kambuh? Pasti anak sialan itu penyebabnya.”
“Sudahlah yah, yang terpenting sekarang adalah kesehatan ibu, kita jangan menambah masalah yang sudah ada.”
“Baik, ayah mengerti.”
Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruang UGD.
“Dok, bagaimana keadaan ibu saya dok? Bagaimana?” tanya Sam cemas.
“Benar, apa istri saya baik-baik saja dok? Dia tidak apa-apa kan dok?” timpal Ayah Sam.
“Sampai saat ini, kami belum bisa memberikan keterangan, karena ibu Anda masih dalam keadaan koma.”
“Dok, tolong dok, lakukan apapun untuk istri saya dok, berapa pun akan saya bayar, tolong dok.”
“Maaf pak, saya sebagai dokter hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik untuk istri bapak, tetapi semua keputusan ada di tangan Tuhan, saya permisi dulu.”
Mendengar pernyataan dokter itu, Sam dan ayahnya lemas, mereka terdiam, tak mampu berkata apa-apa. Berbulan-bulan ibunya koma, berbulan-bulan pula ia pulang pergi melihat keadaan ibunya di rumah sakit itu. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kemajuan dari kondisi ibunya itu. Pada saat yang sama pula, perusahaan Ayah Sam bangkrut karena ulah Ken yang menjual semua saham perusahaan mereka dan membawa kabur uang hasil penjualan itu.
Ayah Sam pun terpaksa menjual satu per satu barang-barang yang ada di rumah mereka untuk membayar biaya pengobatan istrinya. Ia juga bekerja menjadi kuli bangunan. Sebenarnya, dengan pengalaman kerjanya yang sangat baik, ia bisa bekerja di perusahaan-perusahaan ternama. Namun, karena rival perusahaannya melarang perusahaan-perusahaan lain untuk menerimanya bekerja, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga suatu hari……………
“Suster, cepat siapkan defibrillator.”
“Baik dok.”
“Satu, dua, tiga.”
Dep, dep.
“Satu, dua, tiga.”
Dep, dep.
“Coba lagi sus. Satu, dua, tiga.”
Dep, dep. Tit, tit, tit, tit, tit, tit……………….
Dokter keluar dari ruangan itu.
“Pak, kami telah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain.”
“Tidak dok, istri saya tidak mungkin meninggal, tidak mungkin dok, tidak mungkin….!” teriakan Ayah Sam memecah seisi ruangan itu.
“Ibu, ibu..! Tidak!!!” hal yang sama terjadi pada Sam.
Tidak terasa, tiga tahun pun berlalu. Sam sekarang telah duduk di kelas tiga SMK. Ia tumbuh menjadi lelaki yang tampan dan baik. Semua orang di lingkungan barunya sangat menyukainya. Kini, Sam dan ayahnya tinggal di sebuah rumah kecil yang mereka beli di kota baru mereka, di Pulau Bangka. Ayah Sam sekarang menjadi peternak ayam dan pecocok tanam, sedangkan Sam, selain bersekolah, ternyata ia juga bekerja di sebuah toko kelontong milik Balehong.
“Sam, antarkan satu karung beras ini ke rumah Haji Barul,” perintah Balehong.
“Baik ko,” jawab Sam.
“Jangan lupa, uangnya Rp 250.000,- .”
“Iya ko.”
Sesudah menjalankan tugasnya, Sam kembali ke toko Balehong. Di tengah perjalanan, uangnya dijambret oleh dua orang yang mengendarai sepeda motor. Sam mengejar mereka, tetapi mana mungkin kedua kakinya bisa menandingi kecepatan sepeda motor itu. Sesampainya di toko…….
“Sam, mana uang beras Haji Barul?” tanya Balehong.
“Maaf ko, saya di jambret,” jelas Sam jujur.
“Apa? Dijambret? Kamu mau bohong?”
“Tidak ko, saya tidak bohong, saya benar-benar dijambret tadi.”
“Ala, itu alasan saja, supaya kamu bisa mengambil uang beras itu kan. Buktinya, kamu tidak terluka sama sekali,” bentak Balehong.
“Demi Tuhan ko, saya dijambret, saya tidak bohong ko,” tukas Sam.
“Kalau maling mau ngaku, penjara itu sudah sesak, tahu kamu! Sekarang kamu saya pecat!”
“Tapi ko, tapi…”
“Tidak ada tapi-tapian, cepat pergi!”
Sam pun pulang ke rumah. Ia menceritakan semua kejadian yang menimpanya kepada ayahnya.
“Sudah Sam, sudah. Kita harus bersabar, percayalah, orang sabar akan mendapatkan hal yang baik,” ungkap ayahnya sambil tersenyum.
“Iya yah, terima kasih.”
“Lagipula, kamu kan sudah kelas tiga, ayah ingin kamu berkonsentrasi pada sekolahmu dulu, agar kau bisa lulus dengan nilai yang baik Sam.”
“Baik yah, Sam mengerti.”
Sejak saat itu, Sam tidak bekerja lagi. Ia memfokuskan diri pada sekolahnya. Tak heran, jika pada waktu pengumuman kelulusan, namanya dipanggil sebagai siswa dengan nilai nim terbesar di sekolahnya. Berbekal dari ilmu yang didapatnya dari sekolah itulah, Sam membuka usaha bongkar pasang komputer kecil-kecilan. Usaha itu ternyata maju pesat. Terbukti, setelah tujuh tahun menggeluti usaha ini, Sam telah mampu membuka sebuah perusahaan di bidang komputer.
Selain sukses dalam hal bisnis, Sam juga sukses dalam hal percintaan. Sebut saja Mil, wanita yang cantik dan baik hati itu adalah wanita yang paling beruntung diantara wanita-wanita lain. Ia telah berpacaran dengan Sam selama dua tahun. Hubungan mereka pun telah direstui oleh kedua orang tua mereka. Bahkan, rencananya, tiga bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahan.
Ken, kakak Sam, berhasil menemukan Sam dan ayahnya di Pulau Bangka. Ia mengakui kesalahannya, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Oleh karena itu, Sam dan ayahnya bersedia menerimanya kembali. Sam pun mempekerjakan Ken sebagai karyawan di perusahaannya. Ternyata, Ken tidak berubah. Ia masih saja seperti yang dulu. Ia berniat mengambil alih perusahaan Sam, bahkan, merebut Mil, pacar Sam. Niatnya itu dijalankan pada suatu hari, ketika Mil berkunjung ke rumah Sam.
Ting nong, ting nong…..
Krek….(suara pintu dibuka).
“Eh Mil, ada apa?”
“Oh, Kak Ken. Kak, apa Samnya ada? Handphonenya tidak bisa dihubungi, saya khawatir, makanya saya datang ke sini.”
“Emm…Sam ya? Ada ada, ada kok, masuk saja.”
“Terima kasih kak.”
Setelah Mil masuk, Ken diam-diam mengunci pintu rumah itu.
            “Loh kak, kok sepi? Katanya Sam ada.”
“Tidak ada siapa-siapa disini, hanya kita berdua,” ungkap Ken sambil tersenyum sinis.
“Maksud kakak apa? Pa, paman mana?” tanya Mil dengan nada gemetar. Ia merasakan sesuatu yang aneh disini.
“Owh…si tua bangka itu? Dia pergi bersama Sam ke rumah siapa itu namanya, tidak penting.”
“Lalu, kenapa kakak bilang Sam ada dan menyuruh saya masuk? Apa maksud semua ini kak?”
“Hahahahaha…….dasar wanita bodoh. Makanya, kalau jadi orang itu jangan terlalu lugu, kena sendiri kan akibatnya?”
“Akibat apa kak? Sudahlah, kalau tidak ada Sam, saya permisi dulu.”
Mil menuju kearah pintu dan mencoba membukanya, namun……
“Loh, apa-apaan ini kak? Jangan main-main, Mil mau pulang.”
“Pulang katamu? Kau tidak akan kemana-mana. Temani aku dulu sayang, hahahahaha….”
“Kak Ken, tolong jangan bercanda seperti ini, tidak lucu kak.”
“Tenang saja, ini hanya sebentar kok, tidak butuh waktu lama.”
Ken yang sudah diliputi nafsu, langsung menangkap Mil yang sedang gemetar ketakutan. Mil mencoba untuk melawan, tetapi ia tidak berdaya. Kehormatannya direnggut oleh Ken. Setelah puas dengan perbuatan tak bermoralnya, Ken kabur. Mil yang malang itu, hanya bisa diam seperti patung, tak mampu bergerak. Sam dan ayahnya yang telah pulang dari rumah rekan bisnis Sam, terkejut melihat pintu rumah mereka yang terbuka lebar. Mereka langsung mengecek rumah mereka, mereka kira rumah mereka kerampokan. Yang didapati ternyata Mil, dengan tubuh yang tak tertutupi oleh sehelai benang pun. Melihat hal ini, Sam langsung mengambil selimut dan menutupi tubuh Mil.
“Mil, apa yang terjadi? Kenapa kamu ada disini? Kenapa Mil? Kenapa?” tanya Sam cemas.
Mil hanya terdiam, pandangan matanya kosong menatap kearah pintu rumah yang terbuka lebar.
“Mil, jawab Mil, jawab! Kenapa keadaanmu seperti ini? Tolong jawab mil!” ungkap Sam dengan nada sedikit keras.
Mil tetap saja diam. Sam yang kesal, menggoncang tubuh Mil sambil menangis terisak-isak. Ayah Sam mencoba menenangkan Sam.
“Sam, tenang dulu. Tangisanmu tak akan bisa menyelesaikan masalah,” kata Ayah Sam.
“Lalu, aku harus bagaimana yah? Mil pacarku. Kenapa dia seperti ini? Pasti sesuatu yang buruk telah menimpanya.”
“Coba kita pikir, di rumah ini, hanya ada Ken sewaktu kita pergi. Lalu, kemana dia sekarang? Jangan-jangan anak itu…..”
“Apa?? Jadi maksud ayah, Kak Ken yang telah menyebabkan Mil jadi seperti ini?”
“Ayah tidak tahu Sam, tapi itu adalah kemungkinan terbesar. Ternyata anak itu tidak berubah.”
“Tidak, tidak mungkin. Kak Ken sudah berubah yah, aku yakin itu.”
“Sudahlah Sam, sekarang lebih baik kau pakaikan Mil baju dan bawa ia pulang. Jelaskan apa yang terjadi pada keluarganya.”
“Baik yah,” jawab Sam sambil menghapus air matanya.
Ketika telah tiba di rumah Mil, Sam menceritakan semua yang terjadi. Ia berjanji, walaupun Mil dalam keadaan seperti itu, ia akan tetap menikahinya. Keluarga Mil terharu dengan sikap Sam. Mereka bersyukur Mil mendapat lelaki yang tepat. Namun, mereka meminta Sam mencari siapa pelaku yang telah merampas sikap ceria Mil. Sam pun memastikan pelaku itu tidak akan ia lepaskan.
Sepulang dari rumah Mil, Sam langsung ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian yang menimpa Mil. Kemudian, Sam pun pulang ke rumah. Pikirannya kacau, ia mencoba menelepon Mil. Tetapi keluarganya yang menjawab. Ternyata, Mil masih tetap diam, tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Sam pun menutup telepon itu. Ia menangis hingga akhirnya ia tertidur.
Satu minggu berlalu, polisi telah menemukan pelaku itu. Tak lain ialah Ken, kakak yang tega merampas kebahagiaan adiknya. Mengetahui hal ini, Sam langsung meninju wajah Ken di kantor polisi itu. Salah seorang polisi pun mencoba menenangkan Sam dan memastikan bahwa Ken akan mendapat hukuman yang setimpal. Sam pun berterima kasih dan langsung pergi menuju rumah Mil untuk memberitahukan kabar gembira ini. Sesampainya di rumah Mil, Sam terkejut melihat orang-orang yang menangis. Ada apa ini? Pikir Sam.
“Maaf kak, Milnya ada?” tanya Sam.
“Mil, Mil….hiks…hiks….,” jawab Kakak Mil sambil menangis.
“Kenapa kakak menangis? Mil mana?”
“Mil ada di sana,” ungkap Kakak Mil sambil menunjuk kearah sebuah peti berwarna cokelat tua itu.
Sam mendekati peti itu, peti yang berisi sesosok wanita yang cantik dan anggun. Wanita itu Mil, pacar tercintanya, yang meninggal karena bunuh diri dengan menggantung dirinya pada sebuah tali di atap kamarnya.
“Mil, apa yang kau lakukan? Kok kamu tidur di tempat seperti ini? Bangun Mil, jangan bercanda,” kata Sam sambil menepuk-nepuk wajah Mil yang telah agak dingin itu.
“Sam…Mil telah pergi, relakan kepergiannya Sam, relakan…hiks..hiks…,” ungkap Ibu Mil sambil menangis tersedu-sedu.
“Mil tidak meninggal bu, ia cuma bercanda, iya kan Mil?” timpal Sam dengan air mata yang jatuh di pipinya.
“Sudah Sam, sudah. Tolong…jangan hambat kepergian Mil, kasihan dia Sam…”
“Tidak, tidak, tidak!!!!” teriakan Sam menggelegar di ruangan itu.
Setelah semua kejadian yang ia alami, Sam sangat terpukul. Namun, ia bangkit, demi Mil, wanita yang selalu ada di hatinya. Ia berjanji akan menghabiskan semua waktu, tenaga, dan pikirannya hanya untuk bisnisnya. Ia tidak akan mencari wanita lagi, karena baginya, Mil satu-satunya wanita pertama dan terakhir yang pantas untuk berada di hatinya hingga akhir hayatnya.

1 komentar: